Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang ayah kepada anaknya yang sesungguhnya bukan miliknya, melainkan milik Tuhannya.
Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia.
Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta.
Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.
Nak, menjadi ayah itu mulia.
Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit.
Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu.
Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun.
Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan denganNya, hingga saat usia senja ini.
Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu.
Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya.
Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak.
Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu.
Engkau adalah milik Tuhan.
Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu.
Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.
Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau.
Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi,kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata dihadapan Tuhan.
Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.
Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya.
Membuatmu senantiasa erusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu.
Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.
Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan.
Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan.
Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.
Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam.
Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain.
Agar dapat kau rasakan perjalanan rohaniah yang sebenarnya.
Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti.
Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti.
Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia.
Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan.
Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.
Dari ayah yang senantiasa merindukanmu.
sumber http://masichang.blogspot.com/2009/05/surat-ayah-kepada-anaknya.html
Sabtu, 16 Januari 2010
Rabu, 06 Januari 2010
Jumat, 01 Januari 2010
Sayangnya Seorang Ibu
Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu baru saja melahirkan jabang bayinya. "Bisa saya melihat bayi saya?" pinta ibu yang baru melahirkan itu penuh rona kebahagiaan di wajahnya. Namun, ketika gendongan berpindah tangan dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungil itu, si ibu terlihat menahan napasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit, tak tega melihat perubahan wajah si ibu. Bayi yang digendongnya ternyata dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Meski terlihat sedikit kaget, si ibu tetap menimang bayinya dengan penuh kasih sayang.
Waktu membuktikan, bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."
Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang musik dan menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya bermusik.
Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata si ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."
Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.
"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik si ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, ‘kan?"
Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.
Para netter yang luar biasa,
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun ada di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun justru pada apa yang kadang tidak dapat terlihat. Begitu juga dengan cinta seorang ibu pada anaknya. Di sana selalu ada inti sebuah cinta yang sejati, di mana terdapat keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apa pun.
Dalam cerita di atas, cinta dan pengorbanan seorang ibu adalah wujud sebuah cinta sejati yang tak bisa dinilai dan tergantikan. Cinta sang ibu telah membawa kebahagiaan bagi sang anak. Inilah makna sesungguhnya dari sebuah cinta yang murni. Karena itu, sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab, apa pun yang telah kita lakukan, pastilah tak akan sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita hingga menjadi seperti sekarang.
Mari, jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus selalu diberikan penghormatan. Sebab, dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada para ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.
sumber http://www.bagi-info-facebookgroup.co.cc/2009/12/kisah-sejati-seorang-ibu.html
Waktu membuktikan, bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."
Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang musik dan menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya bermusik.
Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak mereka.
Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata si ayah.
Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.
Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."
Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."
Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.
"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik si ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, ‘kan?"
Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.
Para netter yang luar biasa,
Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun ada di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun justru pada apa yang kadang tidak dapat terlihat. Begitu juga dengan cinta seorang ibu pada anaknya. Di sana selalu ada inti sebuah cinta yang sejati, di mana terdapat keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apa pun.
Dalam cerita di atas, cinta dan pengorbanan seorang ibu adalah wujud sebuah cinta sejati yang tak bisa dinilai dan tergantikan. Cinta sang ibu telah membawa kebahagiaan bagi sang anak. Inilah makna sesungguhnya dari sebuah cinta yang murni. Karena itu, sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab, apa pun yang telah kita lakukan, pastilah tak akan sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita hingga menjadi seperti sekarang.
Mari, jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus selalu diberikan penghormatan. Sebab, dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada para ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.
sumber http://www.bagi-info-facebookgroup.co.cc/2009/12/kisah-sejati-seorang-ibu.html
IBUUUU
Sumber : http://doctorgrow.blogspot.com
Kisah judul di atas adalah kisah kasih sayang seorang Ibu kepada kita, ibu kita sering menyembunyikan deritanya demi kasih sayangnya kepada anaknya yaitu kita semua. Sebenarnya dibalik kasih sayang ibu terbersit kasih sayang Tuhan yang lebih besar lagi.
Kasih sayang ibu sejak dicurahkan semenjak kita lahir dari rahimnya menuju alam yang fana di dunia ini, kemudia diasuh, dirawat dan dihantarkannya kita menemui kehidupan yang sesungguhnya yaitu alam manusia dewasa.
Pernahkan kita memikirkan bagaimana agar kita pasti menjadi anak yang sholeh seistilah Allah SWT, sehingga kita benar-benar pasti membalas semua kebaikan Ibu kita.
Seorang Guru Besar Sufi Prof. Dr Haji Syaidi Syekh Kadirun Yahya Muhammad Amin, M.Sc. telah memberikan suatu nasehat yang luar biasa tentang Ibu kepada muridnya yang dikasihi yaitu Guru Besar Sufi Haji Syaidi Syekh Der Moga Barita Raja Muhammad Syukur.
IBU itu adalah Tuhan Ke-dua yang tidak boleh dilawan semua nasehatnya
Menurut penulis ini adalah nasehat yang luar biasa. Kita sering hanya memuji-muji semua kasih sayang ibu, tapi kita tidak pernah mewujudkan balas kasih sayang kita sebagai anak yang sholeh, yang akan pasti menyelamatkan ibu kita di alam roh.
Padahal disebutkan di hadits “salah satu amalan yang tak pernah putus adalah menjadi anak yang sholeh (harus seistilah ALLAH SWT dan KEKASIHNYA)”. Marilah kita wujudkan balas kasih sayang kita dengan meraih “gelar” anak yang sholeh di dunia ini. Segeralah untuk mencari tahu bagaimana agar kita bisa memastikan diri kita adalah anak yang sholeh dengan seistilah ALLAH SWT dan KEKASIHNYA.
Bagaimanakah agar kita menjadi anak yang sholeh? Silahkan ikuti terus episode Quantum Illahi berikutnya yang akan detil menerangkan bagaimana kita menjadi anak yang sholeh seistilah Allah SWT dan Kekasihnya yaitu dengan teknik tali wasilah.
Kisah judul di atas adalah kisah kasih sayang seorang Ibu kepada kita, ibu kita sering menyembunyikan deritanya demi kasih sayangnya kepada anaknya yaitu kita semua. Sebenarnya dibalik kasih sayang ibu terbersit kasih sayang Tuhan yang lebih besar lagi.
Kasih sayang ibu sejak dicurahkan semenjak kita lahir dari rahimnya menuju alam yang fana di dunia ini, kemudia diasuh, dirawat dan dihantarkannya kita menemui kehidupan yang sesungguhnya yaitu alam manusia dewasa.
Pernahkan kita memikirkan bagaimana agar kita pasti menjadi anak yang sholeh seistilah Allah SWT, sehingga kita benar-benar pasti membalas semua kebaikan Ibu kita.
Seorang Guru Besar Sufi Prof. Dr Haji Syaidi Syekh Kadirun Yahya Muhammad Amin, M.Sc. telah memberikan suatu nasehat yang luar biasa tentang Ibu kepada muridnya yang dikasihi yaitu Guru Besar Sufi Haji Syaidi Syekh Der Moga Barita Raja Muhammad Syukur.
IBU itu adalah Tuhan Ke-dua yang tidak boleh dilawan semua nasehatnya
Menurut penulis ini adalah nasehat yang luar biasa. Kita sering hanya memuji-muji semua kasih sayang ibu, tapi kita tidak pernah mewujudkan balas kasih sayang kita sebagai anak yang sholeh, yang akan pasti menyelamatkan ibu kita di alam roh.
Padahal disebutkan di hadits “salah satu amalan yang tak pernah putus adalah menjadi anak yang sholeh (harus seistilah ALLAH SWT dan KEKASIHNYA)”. Marilah kita wujudkan balas kasih sayang kita dengan meraih “gelar” anak yang sholeh di dunia ini. Segeralah untuk mencari tahu bagaimana agar kita bisa memastikan diri kita adalah anak yang sholeh dengan seistilah ALLAH SWT dan KEKASIHNYA.
Bagaimanakah agar kita menjadi anak yang sholeh? Silahkan ikuti terus episode Quantum Illahi berikutnya yang akan detil menerangkan bagaimana kita menjadi anak yang sholeh seistilah Allah SWT dan Kekasihnya yaitu dengan teknik tali wasilah.
CURAHAN SEORANG AYAH KEPADA ANAKNYA
ASSALAMUALAIKUM WA RAHMATULLAH WA BARAKATUH
Salam sayangku pada mu, anakndaku Ayu. Semoga Ayu dalam keadaan sihat walafiat hendaknya.
Maafkan ayah kerana mengganggu kesejahteraan dan ketenangan hidupmu bersama mama. Ayah datang bukan sekadar meminta apa-apa dari Ayu. Ayah hanya ingin mengenali Ayu yang lama ayah tak belai selepas mama dan ayah berpisah. Ayah tahu Ayu merasa terharu atas ketibaan ayah yang tidak terduga dan tidak diundang. Ayah merasa malu kerana datang pada waktu yang Ayu memerlukan ketenangan.
Ayu, maaf dan ampunkan dosa ayah kepada Ayu, yang ayah tahu tertanya-tanya tentang ayah. Bukan kerana ayah tidak mahu datang atau mengunjungi Ayu, tetapi yang nyata halangannya terlalu banyak untuk ayah hadapi. Mungkin ayah ini penakut orangnya. Bukan takut kepada apa atau sesiapa, tetapi takut menyusahkan orang. Nyata fikiran ayah jauh meleset tentang perasaan Ayu. Maafkan ayah yang hilang berkalungkan airmata semasa mama mengambil Ayu dari dakapan ayah yang amat pilu melihat anak yang dijaga ayah selama setahun dari beberapa minggu usianya sehingga hari terakhir yang ayah lihat Ayu sebelum ini.
Ayu bertanya mengapa ayah dan mama berpisah… Ayah sebenarnya tidak tahu apa yang ayah harus jawap kepada Ayu. Ayah tidak dapat menyalahkan sesiapa. Itu takdir Illahi bahawa jodoh mama dengan ayah setakat itu sahaja. Mungkin kesilapan itu juga kesalahan ayah yang hanya ingin terbaik untuk keluarga kita, sehingga tidak kenal siang ataupun malam berusaha untuk memberi kemewahan kepada kita. Bukan kerana mahu kaya, tetapi hanya mahu supaya kita hidup dalam kesenangan dan berkemampuan untuk segala. Ya, supaya ayah dapat sentiasa bersama mama dan Ayu. Rupanya pemikiran ayah juga meleset. Mama bukan memerlukan apa-apa. Mungkin mama merasa sepi di rumah tanpa ayah. Apa kan daya, ayah bukanlah orang yang senang. Makan-minum harus dibiaya, semua harus dijaga, pakaian dan teduhan harus ada. Kerana itu, ayah telah berusaha.
Ayu, ayah tahu Ayu marah terhadap ayah kerana tidak ada di depan mata. Ayah faham akan soalan Ayu kenapa selama ini ayah tidak menghubungi Ayu. Ayah bukan hanya pernah cuba mencari dan datang ke sana untuk tujuan itu, tetapi yang pasti halangan dan benteng telah terlalu lama dibina dan terlalu teguh untuk diroboh. Mungkin dendam itu tak sudah, mungkin juga menjaga maruah. Tetapi apakah erti maruah kalau siksaan itu terlalu pahit untuk ditelan dan terlalu bisa untuk ditahan. Walaupun malu dan segan, ayah tetap ayah dan sangat merindui Ayu selama ini. Telah ayah mohon segala bantuan kaum kerabat, sanak saudara dan juga rakan taulan untuk berusaha mencari anaknda termasuk teman ayah, Goh, yang sering kena saman polis kerana memandu terlalu laju supaya awala sampai ke pekan Maran. Hanya pada tika ini sahaja ayah dapat berita dari teman ayah, Dato’ Yaakub, yang berusaha melalui rakannya, seorang guru bahawa Ayu anak yang bijak dan pintar, tekun dan baik budi serta halus bahasa, kini sekolah di sekolah menengah di Pekan Maran. Pujian pengajar usaha ibu bukan sia-sia.
Amat nyata mama telah menjaga Ayu dengan baik dan prihatin. Kerana inilah ayah tidak mahu memisahkan Ayu daripada ibu yang penyayang. Hanya ayah yang berdosa dan harus menanggung dosa ayah selama ini. Ayah tahu Ayu tidak dapat mengampun atau maafkan ayah kerana meninggal Ayu. Ayah tidak meminta salam atau kasihan dari Ayu. Ayah hanya datang untuk melihat wajah Ayu dan menanya khabar. Kalau Ayu tidak dapat terima ayah, ayah faham. Penerimaan itu bukanlah sesuatu yang senang untuk diberi, seperti juga dosa untuk diampuni. Kita bukan malaikat seperti yang sebahagian orang fikirkan, kita juga bukan anak iblis semasa jodoh tak panjang. Kita hanya manusia biasa yang punya rasa, dendam yang ditunjuk, kasih yang dipupuk, dan segala macam perasaan, pahitnya pilu, sakitnya rindu, bisanya luka dan parut yang masih menjadi tanda.
Bukan ayah tidak mahu membawa Ayu pulang. Ayah mahu supaya Ayu lebih baik dan pandai daripada ayah yang serba kurang ini. Ayah telah lakukan terlalu banyak kesilapan dalam hidup ayah, kerana terlalu sayang kepada keluarga. Kesilapan ayah yang teramat besar adalah sampai mangabaikan keluarga kerana ingin memberi kesenangan kepada keluarga sampai kerja tanpa mengenali waktu untuk keluarga, atau rehat atau makan sekalipun. Apakah erti kekayaan tanpa kasih sayang? Ayah tidak pasti. Tapi pada waktu itu, ayah hanya ingat apakah erti kasih sayang tanpa kemampuan untuk menyenangkan dan membahagiakan keluarga. Tiada makna kalau kita tetap dengan kasih sayang tapi papa kedana. Yang paling penting untuk ayah adalah perlindungan, makan-minum, pakaian dan ketenangan untuk keluarga tercinta. Tetapi mungkinkah andaian ayah meleset sehingga bonda meninggalkan ayah untuk kembali ke pangkuan keluarga.
Sayang, ayah harap bonda dapat memaafkan ayah kerana kurang memahami tindak tanduk orang Melayu dari Semenanjung Malaysia kerana ayah lebih akrab dengan masyarakat orang di sini di mana semua orang adalah saudara dan rapat tidak mengira bangsa, bahasa atau agama. Setiap orang dilayan sama, baik keluarga ataupun jiran, rakan ataupun taulan. Itulah negeri asal ayah. Kami tidak terpegun makan semeja walaupun bukan sebangsa atau agama.
sumber http://johansutrio.blogspot.com/2009/10/warkah-seorang-ayah-kepada-anaknya.html
ASSALAMUALAIKUM WA RAHMATULLAH WA BARAKATUH
Salam sayangku pada mu, anakndaku Ayu. Semoga Ayu dalam keadaan sihat walafiat hendaknya.
Maafkan ayah kerana mengganggu kesejahteraan dan ketenangan hidupmu bersama mama. Ayah datang bukan sekadar meminta apa-apa dari Ayu. Ayah hanya ingin mengenali Ayu yang lama ayah tak belai selepas mama dan ayah berpisah. Ayah tahu Ayu merasa terharu atas ketibaan ayah yang tidak terduga dan tidak diundang. Ayah merasa malu kerana datang pada waktu yang Ayu memerlukan ketenangan.
Ayu, maaf dan ampunkan dosa ayah kepada Ayu, yang ayah tahu tertanya-tanya tentang ayah. Bukan kerana ayah tidak mahu datang atau mengunjungi Ayu, tetapi yang nyata halangannya terlalu banyak untuk ayah hadapi. Mungkin ayah ini penakut orangnya. Bukan takut kepada apa atau sesiapa, tetapi takut menyusahkan orang. Nyata fikiran ayah jauh meleset tentang perasaan Ayu. Maafkan ayah yang hilang berkalungkan airmata semasa mama mengambil Ayu dari dakapan ayah yang amat pilu melihat anak yang dijaga ayah selama setahun dari beberapa minggu usianya sehingga hari terakhir yang ayah lihat Ayu sebelum ini.
Ayu bertanya mengapa ayah dan mama berpisah… Ayah sebenarnya tidak tahu apa yang ayah harus jawap kepada Ayu. Ayah tidak dapat menyalahkan sesiapa. Itu takdir Illahi bahawa jodoh mama dengan ayah setakat itu sahaja. Mungkin kesilapan itu juga kesalahan ayah yang hanya ingin terbaik untuk keluarga kita, sehingga tidak kenal siang ataupun malam berusaha untuk memberi kemewahan kepada kita. Bukan kerana mahu kaya, tetapi hanya mahu supaya kita hidup dalam kesenangan dan berkemampuan untuk segala. Ya, supaya ayah dapat sentiasa bersama mama dan Ayu. Rupanya pemikiran ayah juga meleset. Mama bukan memerlukan apa-apa. Mungkin mama merasa sepi di rumah tanpa ayah. Apa kan daya, ayah bukanlah orang yang senang. Makan-minum harus dibiaya, semua harus dijaga, pakaian dan teduhan harus ada. Kerana itu, ayah telah berusaha.
Ayu, ayah tahu Ayu marah terhadap ayah kerana tidak ada di depan mata. Ayah faham akan soalan Ayu kenapa selama ini ayah tidak menghubungi Ayu. Ayah bukan hanya pernah cuba mencari dan datang ke sana untuk tujuan itu, tetapi yang pasti halangan dan benteng telah terlalu lama dibina dan terlalu teguh untuk diroboh. Mungkin dendam itu tak sudah, mungkin juga menjaga maruah. Tetapi apakah erti maruah kalau siksaan itu terlalu pahit untuk ditelan dan terlalu bisa untuk ditahan. Walaupun malu dan segan, ayah tetap ayah dan sangat merindui Ayu selama ini. Telah ayah mohon segala bantuan kaum kerabat, sanak saudara dan juga rakan taulan untuk berusaha mencari anaknda termasuk teman ayah, Goh, yang sering kena saman polis kerana memandu terlalu laju supaya awala sampai ke pekan Maran. Hanya pada tika ini sahaja ayah dapat berita dari teman ayah, Dato’ Yaakub, yang berusaha melalui rakannya, seorang guru bahawa Ayu anak yang bijak dan pintar, tekun dan baik budi serta halus bahasa, kini sekolah di sekolah menengah di Pekan Maran. Pujian pengajar usaha ibu bukan sia-sia.
Amat nyata mama telah menjaga Ayu dengan baik dan prihatin. Kerana inilah ayah tidak mahu memisahkan Ayu daripada ibu yang penyayang. Hanya ayah yang berdosa dan harus menanggung dosa ayah selama ini. Ayah tahu Ayu tidak dapat mengampun atau maafkan ayah kerana meninggal Ayu. Ayah tidak meminta salam atau kasihan dari Ayu. Ayah hanya datang untuk melihat wajah Ayu dan menanya khabar. Kalau Ayu tidak dapat terima ayah, ayah faham. Penerimaan itu bukanlah sesuatu yang senang untuk diberi, seperti juga dosa untuk diampuni. Kita bukan malaikat seperti yang sebahagian orang fikirkan, kita juga bukan anak iblis semasa jodoh tak panjang. Kita hanya manusia biasa yang punya rasa, dendam yang ditunjuk, kasih yang dipupuk, dan segala macam perasaan, pahitnya pilu, sakitnya rindu, bisanya luka dan parut yang masih menjadi tanda.
Bukan ayah tidak mahu membawa Ayu pulang. Ayah mahu supaya Ayu lebih baik dan pandai daripada ayah yang serba kurang ini. Ayah telah lakukan terlalu banyak kesilapan dalam hidup ayah, kerana terlalu sayang kepada keluarga. Kesilapan ayah yang teramat besar adalah sampai mangabaikan keluarga kerana ingin memberi kesenangan kepada keluarga sampai kerja tanpa mengenali waktu untuk keluarga, atau rehat atau makan sekalipun. Apakah erti kekayaan tanpa kasih sayang? Ayah tidak pasti. Tapi pada waktu itu, ayah hanya ingat apakah erti kasih sayang tanpa kemampuan untuk menyenangkan dan membahagiakan keluarga. Tiada makna kalau kita tetap dengan kasih sayang tapi papa kedana. Yang paling penting untuk ayah adalah perlindungan, makan-minum, pakaian dan ketenangan untuk keluarga tercinta. Tetapi mungkinkah andaian ayah meleset sehingga bonda meninggalkan ayah untuk kembali ke pangkuan keluarga.
Sayang, ayah harap bonda dapat memaafkan ayah kerana kurang memahami tindak tanduk orang Melayu dari Semenanjung Malaysia kerana ayah lebih akrab dengan masyarakat orang di sini di mana semua orang adalah saudara dan rapat tidak mengira bangsa, bahasa atau agama. Setiap orang dilayan sama, baik keluarga ataupun jiran, rakan ataupun taulan. Itulah negeri asal ayah. Kami tidak terpegun makan semeja walaupun bukan sebangsa atau agama.
sumber http://johansutrio.blogspot.com/2009/10/warkah-seorang-ayah-kepada-anaknya.html
BAHAGIA
Bahagia
MENCARI KEBAHAGIAAN
Seorang teman saya mengirimkan email yg sangat menarik.
1. Judulnya “Kebahagiaan Tak Bisa Dikejar”. Hal ini jadi mengingatkan saya pada suatu kalimat “kemanapun kau pergi mencari, kau takkan menemukannya, karena ia ada dihati—itulah kebahagiaan”.
Pernah juga saya membaca buku Jalaluddin Rakhmat yg mengatakan bahwa
2. kebahagiaan adalah suatu pilihan, bukan sesuatu yang datang dari luar begitu saja.
“Benarkah kalimat2 tersebut? Sebelum menjawab hal ini, mari kita berbicara apakah kebahagiaan dan penderitaan. Jika kita berbicara masalah kebahagiaan, maka tidak terlepas juga dari kata “penderitaan”, karena dua kata tersebut berlawanan. Kalau kebahagiaan adalah pilihan, bagaimana dengan penderitaan..? pasti kita semua menentang sengit jika ada orang mengatakan bahwa kebahagiaan adalah suatu pilihan, karena dengan begitu secara tidak langsung juga mengatakan penderitaan (lawan kebahagiaan) adalah pilihan juga.
Dan saya yakin anda akan berseru : “Gila, siapa sih yang mau memilih menderita di dunia ini? Bahagia dan menderita tidak bisa dipilih semua datang kepada kita, diluar kehendak kita.”
Untuk mengurai hal ini, kita lihat contoh kisah ini. Ada teman istri saya yang yang tinggal di belakang perumahan elite Raffles Hills Cibubur, dan setiap hari dia naik angkot persis didepan gerbang Raffles hills tersebut. Suatu hari, dia naik angkot dan ternyata sopir angkot itu sudah kerjasama dengan para perampok yg naik angkot tersebut. Setelah keliling2 tol, dan semua perhiasan serta uang habis, akhirnya perampok tersebut menuju ke ATM dan memaksanya mengambil seluruh uang di ATM. Akhirnya semua habis, termasuk uang di ATM dan hanya tersisa “Rp. 20rb untuk ongkos pulang (kata perampok)”. Dan diapun diturunkan di tengah jalan tol yang sepi dan harus berjalan jauh untuk mendapatkan angkot.
Apakah dirampok adalah suatu pilihan..? tentu bukan. Jadi kalimat bahagia dan menderita adalah pilihan adalah salah! Tunggu dulu.. cerita ini belum selesai hingga disini.
Setelah kejadian itu, teman istri saya merasa penderitaannya sangat berat. Sesampai dirumah barulah dia sadar, dia bersyukur hanya uang yang diambil dan bukan kehormatannya, (mungkin 3 orang perampok itu segan untuk berbuat jauh karena dia memakai jilbab).
Apa yang dapat ditangkap dari cerita tersebut?
1. Pada awalnya gadis tersebut merasa menderita karena dirampok, tetapi
2. Dia jadi merasa bersyukur/bahagia karena hanya uang yg diambil (bukan kehormatannya).
Pada saat dirampok, nilai perasaan menderita tinggi dan nilai perasaan bahagia nol. Tetapi beberapa waktu kemudian, nilai perasaan menderita turun dan nilai perasaan bahagia naik (bahkan lebih tinggi dari nilai perasaan menderita)
Sekarang kita cermati :
.Dia dirampok –-perampokan—adalah musibah (external condition), sesuatu yg tak bisa dihindari.
.Dia merasa menderita –dan kemudian bahagia—adalah internal condition, pilihan yang dapat dilakukan.
Jadi harus dibedakan antara menderita (subyektif) dan musibah (obyektif).
Kejadian sesuatu, musibah, anugerah adalah takdir dan kondisi external, sedangkan bagaimana kita menyikapi –bersyukur, bahagia, mengeluh, kufur, menggerutu—adalah pilihan kita, karena hal itu menyangkut bagaimana kita merasakannya—perasaan—.
Jadi, jelaslah bahwa bahagia dan derita melibatkan perasaan yang dapat kita pilih.
Definisi Kebahagian
Apakah kebahagiaan itu..? Kenapa kita selalu mencari kebahagiaan? Sebagian orang berpendapat —juga saya— bahwa kebahagiaan adalah keadaan hidup dimana semua keinginan kita terpenuhi. Jadi dari definisi ini, kalau kita ingin bahagia (mengejar kebahagiaan) maka kita harus bekerja keras untuk memenuhi semua yang kita inginkan. Karena jaman sekarang semuanya harus pakai uang, maka untuk bahagia kita harus bekerja keras mengumpulkan uang dahulu untuk mencapai kebahagiaan. Inilah hedonisme, yang berawal dari pendapat aristoteles.
Dari jaman dulu, para filusuf besar sudah mencari cara untuk menemukan kebahagiaan, dan itu menjadi topik utama. Aristoteles berpendapat bahwa kebahagiaan adalah good birth, good health, good look, good luck, good reputation, good money, and goodness.
Wah kalau menuruti definisi ini maka :
Saya sulit untuk bahagia karena muka saya bad look.
•Kita jauh dari bahagia karena kita kerja di……. (bad money, he..he..he..)
•Kita juga lebih susah lagi bahagia karena di Indonesia orang sering pileren (Bad health).
Coba sekarang kita balik dengan pertanyaan, mengapa kita ingin sehat..?
Mungkin kita akan menjawab –agar bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup, mengapa kita ingin kerja ? –agar mendapatkan penghasilan (uang), mengapa kita ingin uang? –agar dapat membeli barang yang kita inginkan (rumah, mobil, pakaian yang bagus), mengapa kita ingin membeli barang yang bagus? –agar kita senang dan puas dalam hidup, mengapa kita ingin senang dan puas? –agar kita bahagia, mengapa kita ingin bahagia? –agar………
Jelaslah bahwa akhir dari tujuan hidup didunia ini adalah kebahagiaan, bukan..?
Akhirnya, saya jadi sangsi kalau ada orang bilang biar miskin asal bahagia. Bagaimana bisa bahagia kalau segala kebutuhan serba kekurangan. Mau makan, enggak selera karena lauk ikan asin. Mau pergi2, males angkotnya jauh. Mau kondangan, malu karena baju jelek dan enggak enak sama tetangga karena harus ngutang dulu (belum.. pusing –nyaur utangnya-). Sesuatu yang naif, kan, jika kebahagian itu tidak berhubungan dengan uang dijaman sekarang.
Coba kita lebih cermat,
1. Si miskin akan bahagia jika dia tidak punya keinginan yg berlebihan sehingga semua kebutuhannya jadi tercukupi, (tidak ingin punya sepeda motor, tidak ingin makan pizza, tidak pengin ngutang, dst).
2. Semua yang saya sebutkan tadi sebagian besar berhubungan dengan perasaan bukan (underline word). Jadi mungkin “perasaan kita sajalah yang membuat kita menderita atau bahagia”.
Ingat, bahagia adalah perasaan. Dan perasaan itu sesuatu yang membuat kita sering salah. Dan perasaan itu berasal hati kita yang mudah membalik-balik (itulah mengapa hati kita disebut qolbu, –asal kata qolaba : membalik).
Pada saat kita merasa bahagia, apakah kita bahagia? Pertanyaan ini mungkin agak sulit dijawab.
Tapi akan saya jawab, pada saat kita merasa bahagia, kita sebenarnya kehilangan sebagian hakikat kebagiaan itu. Hal ini sama dengan
•pada saat kita merasa ikhlas, kita sebenarnya sedang riya’.
•Pada saat kita merasa khusuk dalam sholat, kita sebenarnya sedang tidak khusuk.
•Pada saat kita merasa rendah hati, kita sebenarnya sedang sombong.
Jadi kebahagiaan itu apa? Dengan susah saya menjawab dengan versi saya (yang pasti anda semua tidak sepenuhnya setuju), kebahagiaan adalah keadaan dimana kita tidak memikirkan bahwa kita bahagia, tidak merasa bahagia, tidak merasa sedih, dan dimana kita merasa senang serta tidak menginginkan apa-apa. Jadi pada saat bahagia, kita kadang tidak menyadarinya.
Susah juga ya…..saya juga bingung
Begini saja gambarannya. Pada saat anda menonton bola, dan kesebelasan kesayangan anda mencetak gol, sesaat anda akan sangat gembira. Anda tidak ingat kalo udah mulai mengantuk, anda juga tidak ingin makan/minum, hanya memelototi bola tersebut. Anda sedang bahagia.
Atau saat anda bertemu kekasih anda, saking senangnya hingga tidak sadar malam mulai larut, tidak haus walau minuman yang tersedia juga sudah habis & kerongkongan kering karena ngobrol kesana-kemari, tiba2 anda lupa waktu sampai diusir hansip. Pada saat itu anda sedang bahagia.
Tetapi anda menyadari semua hal itu setelah waktu berlalu, setelah acara bola selesai (baru terasa lapar dan ngantuk), setelah sampai rumah sehabis bertemu kekasih (baru terasa haus dan merasa bahwa barusan melewati kebahagiaan).
Jelaslah bahwa kebahagian sebenarnya bukan hanya datang dari uang or material yang berlimpah seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Juga tidak seperti gambarang Aristoteles yang harus mempunyai segalanya untuk bahagia.
Jadi kalau kita berpikir bahwa dengan memiliki uang dan semua yang kita ingin adalah jalan menuju kebahagiaan, maka kita akan kembali pada pemikiran jaman Yunani kuno seperti aristoteles.
Kebahagiaan Menurut Islam dan Cara Mencapainya
Mengutip buku Kang Jalal, maka kebahagiaan di dalam Islam sudah digambarkan dengan jelas dalam Al Qur’an –kata aflaha yang merupakan derivasi kata falah dan kata tuflihuun menjelaskan dengan jelas arti bahagia –. Ini bisa kita dapati :
•Bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu berbahagia (2:189)
•Wahai orang2 beriman, janganlah kamu makan riba yang berlipat-lipat dan bertakwalah kamu kepada Allah, supaya kamu berbahagia (3:130)
•Wahai orang-orang yg beriman, bersabarlah, saling menyabarkan dan perkuat persatuanmu supaya kamu berbahagia (3:200)
•Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan berjuanglah di jalan Allah, supaya kamu berbahagia (5:35)
•Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat kebahagiaan (5:90)
•Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat berbahagia” (5:100)
•Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu berbahgia. (7:69)
•Hai orang-orang yang beriman, jika kamu memerangi musuh musuh, teguhkan hatimu dan berzikirlah kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu bahagia (8:45)
•Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan (22:77).
•Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu berbahagia (24:31).
•Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu berbahagia (62:10).
Ayat-ayat tersebut diatas menunjukkan bahwa Islam menerangkan dengan jelas cara-cara mencapai kebahagiaan. Hanya satu hal yang menyebutkan kita harus mencari nikmat Allah (rejeki) untuk mecapai kebahagiaan (Surat Al Jumu’ah : 31).
Jangan lupa, bahwa kita setiap hari 10 kali diajak untuk mencari dan mencapai kebahagian, yaitu dengan menunaikan sholat (saat bekumandang azan & iqomah dikumandangkan hayya ‘alas sholaah, hayya ‘alal falaah). Jadi, mengerjakan sholat akan membuat kita berbahagia.
Jelaslah sekarang bahwa sebagian besar kebahagiaan tidak didapat dengan memburu harta dan kekayaan. Tetapi bahagia yang abadi menurut Islam adalah selalu mengingat Allah dan bertakwa kepada-Nya.
Kebahagiaan dan Efeknya
Kebahagiaan membawa dampak psikologis yang sangat besar terhadap kehidupan orang yang bersangkutan. Seorang yang bahagia, cenderung berpikiran terbuka, suka menolong, dermawan dan care terhadap orang lain. Orang yang bahagia juga cenderung ikhlas berkorban untuk orang lain. Itulah yang disebut altruisme.
Terhadap orang yang anda cintai dan anda berbahagia dengannya, anda cenderung lebih sabar (walaupun sejatinya anda termasuk orang pemarah), mau menolong, mau meminjamkan uang (walaupun dengan begitu anda ngutang ke teman dekat anda).
Jadi jika ada orang yang sudah kaya, tetapi kikir, berarti dia belum berbahagia (bagaimana mau bahagia, kalau pikirannya mengejar harta terus..tanpa pernah bersyukur dan selalu merasa kekurangan).
Jadi menurut gambaran saya, begitulah (apa yang saya tulis diatas) yang dinamakan bahagia.
Sumber http://timebomb76.wordpress.com/2007/01/09/13/
MENCARI KEBAHAGIAAN
Seorang teman saya mengirimkan email yg sangat menarik.
1. Judulnya “Kebahagiaan Tak Bisa Dikejar”. Hal ini jadi mengingatkan saya pada suatu kalimat “kemanapun kau pergi mencari, kau takkan menemukannya, karena ia ada dihati—itulah kebahagiaan”.
Pernah juga saya membaca buku Jalaluddin Rakhmat yg mengatakan bahwa
2. kebahagiaan adalah suatu pilihan, bukan sesuatu yang datang dari luar begitu saja.
“Benarkah kalimat2 tersebut? Sebelum menjawab hal ini, mari kita berbicara apakah kebahagiaan dan penderitaan. Jika kita berbicara masalah kebahagiaan, maka tidak terlepas juga dari kata “penderitaan”, karena dua kata tersebut berlawanan. Kalau kebahagiaan adalah pilihan, bagaimana dengan penderitaan..? pasti kita semua menentang sengit jika ada orang mengatakan bahwa kebahagiaan adalah suatu pilihan, karena dengan begitu secara tidak langsung juga mengatakan penderitaan (lawan kebahagiaan) adalah pilihan juga.
Dan saya yakin anda akan berseru : “Gila, siapa sih yang mau memilih menderita di dunia ini? Bahagia dan menderita tidak bisa dipilih semua datang kepada kita, diluar kehendak kita.”
Untuk mengurai hal ini, kita lihat contoh kisah ini. Ada teman istri saya yang yang tinggal di belakang perumahan elite Raffles Hills Cibubur, dan setiap hari dia naik angkot persis didepan gerbang Raffles hills tersebut. Suatu hari, dia naik angkot dan ternyata sopir angkot itu sudah kerjasama dengan para perampok yg naik angkot tersebut. Setelah keliling2 tol, dan semua perhiasan serta uang habis, akhirnya perampok tersebut menuju ke ATM dan memaksanya mengambil seluruh uang di ATM. Akhirnya semua habis, termasuk uang di ATM dan hanya tersisa “Rp. 20rb untuk ongkos pulang (kata perampok)”. Dan diapun diturunkan di tengah jalan tol yang sepi dan harus berjalan jauh untuk mendapatkan angkot.
Apakah dirampok adalah suatu pilihan..? tentu bukan. Jadi kalimat bahagia dan menderita adalah pilihan adalah salah! Tunggu dulu.. cerita ini belum selesai hingga disini.
Setelah kejadian itu, teman istri saya merasa penderitaannya sangat berat. Sesampai dirumah barulah dia sadar, dia bersyukur hanya uang yang diambil dan bukan kehormatannya, (mungkin 3 orang perampok itu segan untuk berbuat jauh karena dia memakai jilbab).
Apa yang dapat ditangkap dari cerita tersebut?
1. Pada awalnya gadis tersebut merasa menderita karena dirampok, tetapi
2. Dia jadi merasa bersyukur/bahagia karena hanya uang yg diambil (bukan kehormatannya).
Pada saat dirampok, nilai perasaan menderita tinggi dan nilai perasaan bahagia nol. Tetapi beberapa waktu kemudian, nilai perasaan menderita turun dan nilai perasaan bahagia naik (bahkan lebih tinggi dari nilai perasaan menderita)
Sekarang kita cermati :
.Dia dirampok –-perampokan—adalah musibah (external condition), sesuatu yg tak bisa dihindari.
.Dia merasa menderita –dan kemudian bahagia—adalah internal condition, pilihan yang dapat dilakukan.
Jadi harus dibedakan antara menderita (subyektif) dan musibah (obyektif).
Kejadian sesuatu, musibah, anugerah adalah takdir dan kondisi external, sedangkan bagaimana kita menyikapi –bersyukur, bahagia, mengeluh, kufur, menggerutu—adalah pilihan kita, karena hal itu menyangkut bagaimana kita merasakannya—perasaan—.
Jadi, jelaslah bahwa bahagia dan derita melibatkan perasaan yang dapat kita pilih.
Definisi Kebahagian
Apakah kebahagiaan itu..? Kenapa kita selalu mencari kebahagiaan? Sebagian orang berpendapat —juga saya— bahwa kebahagiaan adalah keadaan hidup dimana semua keinginan kita terpenuhi. Jadi dari definisi ini, kalau kita ingin bahagia (mengejar kebahagiaan) maka kita harus bekerja keras untuk memenuhi semua yang kita inginkan. Karena jaman sekarang semuanya harus pakai uang, maka untuk bahagia kita harus bekerja keras mengumpulkan uang dahulu untuk mencapai kebahagiaan. Inilah hedonisme, yang berawal dari pendapat aristoteles.
Dari jaman dulu, para filusuf besar sudah mencari cara untuk menemukan kebahagiaan, dan itu menjadi topik utama. Aristoteles berpendapat bahwa kebahagiaan adalah good birth, good health, good look, good luck, good reputation, good money, and goodness.
Wah kalau menuruti definisi ini maka :
Saya sulit untuk bahagia karena muka saya bad look.
•Kita jauh dari bahagia karena kita kerja di……. (bad money, he..he..he..)
•Kita juga lebih susah lagi bahagia karena di Indonesia orang sering pileren (Bad health).
Coba sekarang kita balik dengan pertanyaan, mengapa kita ingin sehat..?
Mungkin kita akan menjawab –agar bisa bekerja dan memenuhi kebutuhan hidup, mengapa kita ingin kerja ? –agar mendapatkan penghasilan (uang), mengapa kita ingin uang? –agar dapat membeli barang yang kita inginkan (rumah, mobil, pakaian yang bagus), mengapa kita ingin membeli barang yang bagus? –agar kita senang dan puas dalam hidup, mengapa kita ingin senang dan puas? –agar kita bahagia, mengapa kita ingin bahagia? –agar………
Jelaslah bahwa akhir dari tujuan hidup didunia ini adalah kebahagiaan, bukan..?
Akhirnya, saya jadi sangsi kalau ada orang bilang biar miskin asal bahagia. Bagaimana bisa bahagia kalau segala kebutuhan serba kekurangan. Mau makan, enggak selera karena lauk ikan asin. Mau pergi2, males angkotnya jauh. Mau kondangan, malu karena baju jelek dan enggak enak sama tetangga karena harus ngutang dulu (belum.. pusing –nyaur utangnya-). Sesuatu yang naif, kan, jika kebahagian itu tidak berhubungan dengan uang dijaman sekarang.
Coba kita lebih cermat,
1. Si miskin akan bahagia jika dia tidak punya keinginan yg berlebihan sehingga semua kebutuhannya jadi tercukupi, (tidak ingin punya sepeda motor, tidak ingin makan pizza, tidak pengin ngutang, dst).
2. Semua yang saya sebutkan tadi sebagian besar berhubungan dengan perasaan bukan (underline word). Jadi mungkin “perasaan kita sajalah yang membuat kita menderita atau bahagia”.
Ingat, bahagia adalah perasaan. Dan perasaan itu sesuatu yang membuat kita sering salah. Dan perasaan itu berasal hati kita yang mudah membalik-balik (itulah mengapa hati kita disebut qolbu, –asal kata qolaba : membalik).
Pada saat kita merasa bahagia, apakah kita bahagia? Pertanyaan ini mungkin agak sulit dijawab.
Tapi akan saya jawab, pada saat kita merasa bahagia, kita sebenarnya kehilangan sebagian hakikat kebagiaan itu. Hal ini sama dengan
•pada saat kita merasa ikhlas, kita sebenarnya sedang riya’.
•Pada saat kita merasa khusuk dalam sholat, kita sebenarnya sedang tidak khusuk.
•Pada saat kita merasa rendah hati, kita sebenarnya sedang sombong.
Jadi kebahagiaan itu apa? Dengan susah saya menjawab dengan versi saya (yang pasti anda semua tidak sepenuhnya setuju), kebahagiaan adalah keadaan dimana kita tidak memikirkan bahwa kita bahagia, tidak merasa bahagia, tidak merasa sedih, dan dimana kita merasa senang serta tidak menginginkan apa-apa. Jadi pada saat bahagia, kita kadang tidak menyadarinya.
Susah juga ya…..saya juga bingung
Begini saja gambarannya. Pada saat anda menonton bola, dan kesebelasan kesayangan anda mencetak gol, sesaat anda akan sangat gembira. Anda tidak ingat kalo udah mulai mengantuk, anda juga tidak ingin makan/minum, hanya memelototi bola tersebut. Anda sedang bahagia.
Atau saat anda bertemu kekasih anda, saking senangnya hingga tidak sadar malam mulai larut, tidak haus walau minuman yang tersedia juga sudah habis & kerongkongan kering karena ngobrol kesana-kemari, tiba2 anda lupa waktu sampai diusir hansip. Pada saat itu anda sedang bahagia.
Tetapi anda menyadari semua hal itu setelah waktu berlalu, setelah acara bola selesai (baru terasa lapar dan ngantuk), setelah sampai rumah sehabis bertemu kekasih (baru terasa haus dan merasa bahwa barusan melewati kebahagiaan).
Jelaslah bahwa kebahagian sebenarnya bukan hanya datang dari uang or material yang berlimpah seperti yang saya bayangkan sebelumnya. Juga tidak seperti gambarang Aristoteles yang harus mempunyai segalanya untuk bahagia.
Jadi kalau kita berpikir bahwa dengan memiliki uang dan semua yang kita ingin adalah jalan menuju kebahagiaan, maka kita akan kembali pada pemikiran jaman Yunani kuno seperti aristoteles.
Kebahagiaan Menurut Islam dan Cara Mencapainya
Mengutip buku Kang Jalal, maka kebahagiaan di dalam Islam sudah digambarkan dengan jelas dalam Al Qur’an –kata aflaha yang merupakan derivasi kata falah dan kata tuflihuun menjelaskan dengan jelas arti bahagia –. Ini bisa kita dapati :
•Bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu berbahagia (2:189)
•Wahai orang2 beriman, janganlah kamu makan riba yang berlipat-lipat dan bertakwalah kamu kepada Allah, supaya kamu berbahagia (3:130)
•Wahai orang-orang yg beriman, bersabarlah, saling menyabarkan dan perkuat persatuanmu supaya kamu berbahagia (3:200)
•Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepada-Nya dan berjuanglah di jalan Allah, supaya kamu berbahagia (5:35)
•Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamar, berjudi, berhala, mengundi nasib dengan panah , adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat kebahagiaan (5:90)
•Katakanlah: “Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat berbahagia” (5:100)
•Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu berbahgia. (7:69)
•Hai orang-orang yang beriman, jika kamu memerangi musuh musuh, teguhkan hatimu dan berzikirlah kamu kepada Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu bahagia (8:45)
•Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan (22:77).
•Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu berbahagia (24:31).
•Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu berbahagia (62:10).
Ayat-ayat tersebut diatas menunjukkan bahwa Islam menerangkan dengan jelas cara-cara mencapai kebahagiaan. Hanya satu hal yang menyebutkan kita harus mencari nikmat Allah (rejeki) untuk mecapai kebahagiaan (Surat Al Jumu’ah : 31).
Jangan lupa, bahwa kita setiap hari 10 kali diajak untuk mencari dan mencapai kebahagian, yaitu dengan menunaikan sholat (saat bekumandang azan & iqomah dikumandangkan hayya ‘alas sholaah, hayya ‘alal falaah). Jadi, mengerjakan sholat akan membuat kita berbahagia.
Jelaslah sekarang bahwa sebagian besar kebahagiaan tidak didapat dengan memburu harta dan kekayaan. Tetapi bahagia yang abadi menurut Islam adalah selalu mengingat Allah dan bertakwa kepada-Nya.
Kebahagiaan dan Efeknya
Kebahagiaan membawa dampak psikologis yang sangat besar terhadap kehidupan orang yang bersangkutan. Seorang yang bahagia, cenderung berpikiran terbuka, suka menolong, dermawan dan care terhadap orang lain. Orang yang bahagia juga cenderung ikhlas berkorban untuk orang lain. Itulah yang disebut altruisme.
Terhadap orang yang anda cintai dan anda berbahagia dengannya, anda cenderung lebih sabar (walaupun sejatinya anda termasuk orang pemarah), mau menolong, mau meminjamkan uang (walaupun dengan begitu anda ngutang ke teman dekat anda).
Jadi jika ada orang yang sudah kaya, tetapi kikir, berarti dia belum berbahagia (bagaimana mau bahagia, kalau pikirannya mengejar harta terus..tanpa pernah bersyukur dan selalu merasa kekurangan).
Jadi menurut gambaran saya, begitulah (apa yang saya tulis diatas) yang dinamakan bahagia.
Sumber http://timebomb76.wordpress.com/2007/01/09/13/
Langganan:
Postingan (Atom)
