Sabtu, 16 Januari 2010

surat ayat kepada anak

Aku tuliskan surat ini atas nama rindu yang besarnya hanya Allah yang tahu. Sebelum kulanjutkan, bacalah surat ini sebagai surat seorang ayah kepada anaknya yang sesungguhnya bukan miliknya, melainkan milik Tuhannya.
Nak, menjadi ayah itu indah dan mulia.
Besar kecemasanku menanti kelahiranmu dulu belum hilang hingga saat ini. Kecemasan yang indah karena ia didasari sebuah cinta.
Sebuah cinta yang telah terasakan bahkan ketika yang dicintai belum sekalipun kutemui.

Nak, menjadi ayah itu mulia.
Bacalah sejarah Nabi-Nabi dan Rasul dan temukanlah betapa nasehat yang terbaik itu dicatat dari dialog seorang ayah dengan anak-anaknya.
Meskipun demikian, ketahuilah Nak, menjadi ayah itu berat dan sulit.
Tapi kuakui, betapa sepanjang masa kehadiranmu di sisiku, aku seperti menemui keberadaanku, makna keberadaanmu, dan makna tugas kebapakanku terhadapmu.
Sepanjang masa keberadaanmu adalah salah satu masa terindah dan paling aku banggakan di depan siapapun.
Bahkan dihadapan Tuhan, ketika aku duduk berduaan berhadapan denganNya, hingga saat usia senja ini.

Nak, saat pertama engkau hadir, kucium dan kupeluk engkau sebagai buah cintaku dan ibumu.
Sebagai bukti, bahwa aku dan ibumu tak lagi terpisahkan oleh apapun jua. Tapi seiring waktu, ketika engkau suatu kali telah mampu berkata: "TIDAK", timbul kesadaranku siapa engkau sesungguhnya.
Engkau bukan milikku, atau milik ibumu Nak.
Engkau lahir bukan karena cintaku dan cinta ibumu.
Engkau adalah milik Tuhan.
Tak ada hakku menuntut pengabdian darimu.
Karena pengabdianmu semata-mata seharusnya hanya untuk Tuhan.

Nak, sedih, pedih dan terhempaskan rasanya menyadari siapa sebenarnya aku dan siapa engkau.
Dan dalam waktu panjang di malam-malam sepi,kusesali kesalahanku itu sepenuh -penuh air mata dihadapan Tuhan.
Syukurlah, penyesalan itu mencerahkanku.

Sejak saat itu Nak, satu-satunya usahaku adalah mendekatkanmu kepada pemilikmu yang sebenarnya.
Membuatmu senantiasa erusaha memenuhi keinginan pemilikmu. Melakukan segala sesuatu karena Nya, bukan karena kau dan ibumu.
Tugasku bukan membuatmu dikagumi orang lain, tapi agar engkau dikagumi dan dicintai Tuhan.

Inilah usaha terberatku Nak, karena artinya aku harus lebih dulu memberi contoh kepadamu dekat dengan Tuhan.
Keinginanku harus lebih dulu sesuai dengan keinginan Tuhan.
Agar perjalananmu mendekati Nya tak lagi terlalu sulit.
Kemudian, kitapun memulai perjalanan itu berdua, tak pernah engkau kuhindarkan dari kerikil tajam dan lumpur hitam.
Aku cuma menggenggam jemarimu dan merapatkan jiwa kita satu sama lain.
Agar dapat kau rasakan perjalanan rohaniah yang sebenarnya.
Saat engkau mengeluh letih berjalan, kukuatkan engkau karena kita memang tak boleh berhenti.
Perjalanan mengenal Tuhan tak kenal letih dan berhenti.

Nak. Berhenti berarti mati, inilah kata-kataku tiap kali memeluk dan menghapus air matamu, ketika engkau hampir putus asa.
Akhirnya Nak, kalau nanti, ketika semua manusia dikumpulkan di hadapan Tuhan, dan kudapati jarakku amat jauh dari Nya, aku akan ikhlas. Karena seperti itulah aku di dunia.
Tapi, kalau boleh aku berharap, aku ingin saat itu aku melihatmu dekat dengan Tuhan.
Aku akan bangga Nak, karena itulah bukti bahwa semua titipan bisa kita kembalikan kepada pemiliknya.
Dari ayah yang senantiasa merindukanmu.

sumber http://masichang.blogspot.com/2009/05/surat-ayah-kepada-anaknya.html

Rabu, 06 Januari 2010

javascript:void(9)

link

http://adanipermana.co.cc/2008/11/11/tafsir-surah-al-fatihah-1/

Jumat, 01 Januari 2010

Sayangnya Seorang Ibu

Di sebuah rumah sakit bersalin, seorang ibu baru saja melahirkan jabang bayinya. "Bisa saya melihat bayi saya?" pinta ibu yang baru melahirkan itu penuh rona kebahagiaan di wajahnya. Namun, ketika gendongan berpindah tangan dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki mungil itu, si ibu terlihat menahan napasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit, tak tega melihat perubahan wajah si ibu. Bayi yang digendongnya ternyata dilahirkan tanpa kedua belah telinga! Meski terlihat sedikit kaget, si ibu tetap menimang bayinya dengan penuh kasih sayang.


Waktu membuktikan, bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk. Suatu hari, anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan si ibu sambil menangis. Ibu itu pun ikut berurai air mata. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Sambil terisak, anak itu bercerita, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."

Begitulah, meski tumbuh dengan kekurangan, anak lelaki itu kini telah dewasa. Dengan kasih sayang dan dorongan semangat orangtuanya, meski punya kekurangan, ia tumbuh sebagai pemuda tampan yang cerdas. Rupanya, ia pun pandai bergaul sehingga disukai teman-teman sekolahnya. Ia pun mengembangkan bakat di bidang musik dan menulis. Akhirnya, ia tumbuh menjadi remaja pria yang disegani karena kepandaiannya bermusik.

Suatu hari, ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuk putra Bapak. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter. Maka, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya kepada anak mereka.

Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelaki itu, "Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia," kata si ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Ia pun seperti terlahir kembali. Wajahnya yang tampan, ditambah kini ia sudah punya daun telinga, membuat ia semakin terlihat menawan. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya.

Beberapa waktu kemudian, ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat. Ia lantas menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar, namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya."

Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu." Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini."

Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari, tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga tersebut. Pada hari itu, ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, si ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku. Sang ayah lantas menyibaknya sehingga sesuatu yang mengejutkan si anak lelaki terjadi. Ternyata, si ibu tidak memiliki telinga.

"Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik si ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya, ‘kan?"

Melihat kenyataan bahwa telinga ibunya yang diberikan pada si anak, meledaklah tangisnya. Ia merasakan bahwa cinta sejati ibunya yang telah membuat ia bisa seperti saat ini.

Para netter yang luar biasa,

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh, namun ada di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun justru pada apa yang kadang tidak dapat terlihat. Begitu juga dengan cinta seorang ibu pada anaknya. Di sana selalu ada inti sebuah cinta yang sejati, di mana terdapat keikhlasan dan ketulusan yang tak mengharap balasan apa pun.

Dalam cerita di atas, cinta dan pengorbanan seorang ibu adalah wujud sebuah cinta sejati yang tak bisa dinilai dan tergantikan. Cinta sang ibu telah membawa kebahagiaan bagi sang anak. Inilah makna sesungguhnya dari sebuah cinta yang murni. Karena itu, sebagai seorang anak, jangan pernah melupakan jasa seorang ibu. Sebab, apa pun yang telah kita lakukan, pastilah tak akan sebanding dengan cinta dan ketulusannya membesarkan, mendidik, dan merawat kita hingga menjadi seperti sekarang.

Mari, jadikan ibu kita sebagai suri teladan untuk terus berbagi kebaikan. Jadikan beliau sebagai panutan yang harus selalu diberikan penghormatan. Sebab, dengan memperhatikan dan memberikan kasih sayang kembali kepada para ibu, kita akan menemukan cinta penuh ketulusan dan keikhlasan, yang akan membimbing kita menemukan kebahagiaan sejati dalam kehidupan.

sumber http://www.bagi-info-facebookgroup.co.cc/2009/12/kisah-sejati-seorang-ibu.html

IBUUUU

Sumber : http://doctorgrow.blogspot.com

Kisah judul di atas adalah kisah kasih sayang seorang Ibu kepada kita, ibu kita sering menyembunyikan deritanya demi kasih sayangnya kepada anaknya yaitu kita semua. Sebenarnya dibalik kasih sayang ibu terbersit kasih sayang Tuhan yang lebih besar lagi.

Kasih sayang ibu sejak dicurahkan semenjak kita lahir dari rahimnya menuju alam yang fana di dunia ini, kemudia diasuh, dirawat dan dihantarkannya kita menemui kehidupan yang sesungguhnya yaitu alam manusia dewasa.

Pernahkan kita memikirkan bagaimana agar kita pasti menjadi anak yang sholeh seistilah Allah SWT, sehingga kita benar-benar pasti membalas semua kebaikan Ibu kita.

Seorang Guru Besar Sufi Prof. Dr Haji Syaidi Syekh Kadirun Yahya Muhammad Amin, M.Sc. telah memberikan suatu nasehat yang luar biasa tentang Ibu kepada muridnya yang dikasihi yaitu Guru Besar Sufi Haji Syaidi Syekh Der Moga Barita Raja Muhammad Syukur.

IBU itu adalah Tuhan Ke-dua yang tidak boleh dilawan semua nasehatnya

Menurut penulis ini adalah nasehat yang luar biasa. Kita sering hanya memuji-muji semua kasih sayang ibu, tapi kita tidak pernah mewujudkan balas kasih sayang kita sebagai anak yang sholeh, yang akan pasti menyelamatkan ibu kita di alam roh.

Padahal disebutkan di hadits “salah satu amalan yang tak pernah putus adalah menjadi anak yang sholeh (harus seistilah ALLAH SWT dan KEKASIHNYA)”. Marilah kita wujudkan balas kasih sayang kita dengan meraih “gelar” anak yang sholeh di dunia ini. Segeralah untuk mencari tahu bagaimana agar kita bisa memastikan diri kita adalah anak yang sholeh dengan seistilah ALLAH SWT dan KEKASIHNYA.

Bagaimanakah agar kita menjadi anak yang sholeh? Silahkan ikuti terus episode Quantum Illahi berikutnya yang akan detil menerangkan bagaimana kita menjadi anak yang sholeh seistilah Allah SWT dan Kekasihnya yaitu dengan teknik tali wasilah.
CURAHAN SEORANG AYAH KEPADA ANAKNYA

ASSALAMUALAIKUM WA RAHMATULLAH WA BARAKATUH

Salam sayangku pada mu, anakndaku Ayu. Semoga Ayu dalam keadaan sihat walafiat hendaknya.

Maafkan ayah kerana mengganggu kesejahteraan dan ketenangan hidupmu bersama mama. Ayah datang bukan sekadar meminta apa-apa dari Ayu. Ayah hanya ingin mengenali Ayu yang lama ayah tak belai selepas mama dan ayah berpisah. Ayah tahu Ayu merasa terharu atas ketibaan ayah yang tidak terduga dan tidak diundang. Ayah merasa malu kerana datang pada waktu yang Ayu memerlukan ketenangan.

Ayu, maaf dan ampunkan dosa ayah kepada Ayu, yang ayah tahu tertanya-tanya tentang ayah. Bukan kerana ayah tidak mahu datang atau mengunjungi Ayu, tetapi yang nyata halangannya terlalu banyak untuk ayah hadapi. Mungkin ayah ini penakut orangnya. Bukan takut kepada apa atau sesiapa, tetapi takut menyusahkan orang. Nyata fikiran ayah jauh meleset tentang perasaan Ayu. Maafkan ayah yang hilang berkalungkan airmata semasa mama mengambil Ayu dari dakapan ayah yang amat pilu melihat anak yang dijaga ayah selama setahun dari beberapa minggu usianya sehingga hari terakhir yang ayah lihat Ayu sebelum ini.

Ayu bertanya mengapa ayah dan mama berpisah… Ayah sebenarnya tidak tahu apa yang ayah harus jawap kepada Ayu. Ayah tidak dapat menyalahkan sesiapa. Itu takdir Illahi bahawa jodoh mama dengan ayah setakat itu sahaja. Mungkin kesilapan itu juga kesalahan ayah yang hanya ingin terbaik untuk keluarga kita, sehingga tidak kenal siang ataupun malam berusaha untuk memberi kemewahan kepada kita. Bukan kerana mahu kaya, tetapi hanya mahu supaya kita hidup dalam kesenangan dan berkemampuan untuk segala. Ya, supaya ayah dapat sentiasa bersama mama dan Ayu. Rupanya pemikiran ayah juga meleset. Mama bukan memerlukan apa-apa. Mungkin mama merasa sepi di rumah tanpa ayah. Apa kan daya, ayah bukanlah orang yang senang. Makan-minum harus dibiaya, semua harus dijaga, pakaian dan teduhan harus ada. Kerana itu, ayah telah berusaha.

Ayu, ayah tahu Ayu marah terhadap ayah kerana tidak ada di depan mata. Ayah faham akan soalan Ayu kenapa selama ini ayah tidak menghubungi Ayu. Ayah bukan hanya pernah cuba mencari dan datang ke sana untuk tujuan itu, tetapi yang pasti halangan dan benteng telah terlalu lama dibina dan terlalu teguh untuk diroboh. Mungkin dendam itu tak sudah, mungkin juga menjaga maruah. Tetapi apakah erti maruah kalau siksaan itu terlalu pahit untuk ditelan dan terlalu bisa untuk ditahan. Walaupun malu dan segan, ayah tetap ayah dan sangat merindui Ayu selama ini. Telah ayah mohon segala bantuan kaum kerabat, sanak saudara dan juga rakan taulan untuk berusaha mencari anaknda termasuk teman ayah, Goh, yang sering kena saman polis kerana memandu terlalu laju supaya awala sampai ke pekan Maran. Hanya pada tika ini sahaja ayah dapat berita dari teman ayah, Dato’ Yaakub, yang berusaha melalui rakannya, seorang guru bahawa Ayu anak yang bijak dan pintar, tekun dan baik budi serta halus bahasa, kini sekolah di sekolah menengah di Pekan Maran. Pujian pengajar usaha ibu bukan sia-sia.

Amat nyata mama telah menjaga Ayu dengan baik dan prihatin. Kerana inilah ayah tidak mahu memisahkan Ayu daripada ibu yang penyayang. Hanya ayah yang berdosa dan harus menanggung dosa ayah selama ini. Ayah tahu Ayu tidak dapat mengampun atau maafkan ayah kerana meninggal Ayu. Ayah tidak meminta salam atau kasihan dari Ayu. Ayah hanya datang untuk melihat wajah Ayu dan menanya khabar. Kalau Ayu tidak dapat terima ayah, ayah faham. Penerimaan itu bukanlah sesuatu yang senang untuk diberi, seperti juga dosa untuk diampuni. Kita bukan malaikat seperti yang sebahagian orang fikirkan, kita juga bukan anak iblis semasa jodoh tak panjang. Kita hanya manusia biasa yang punya rasa, dendam yang ditunjuk, kasih yang dipupuk, dan segala macam perasaan, pahitnya pilu, sakitnya rindu, bisanya luka dan parut yang masih menjadi tanda.

Bukan ayah tidak mahu membawa Ayu pulang. Ayah mahu supaya Ayu lebih baik dan pandai daripada ayah yang serba kurang ini. Ayah telah lakukan terlalu banyak kesilapan dalam hidup ayah, kerana terlalu sayang kepada keluarga. Kesilapan ayah yang teramat besar adalah sampai mangabaikan keluarga kerana ingin memberi kesenangan kepada keluarga sampai kerja tanpa mengenali waktu untuk keluarga, atau rehat atau makan sekalipun. Apakah erti kekayaan tanpa kasih sayang? Ayah tidak pasti. Tapi pada waktu itu, ayah hanya ingat apakah erti kasih sayang tanpa kemampuan untuk menyenangkan dan membahagiakan keluarga. Tiada makna kalau kita tetap dengan kasih sayang tapi papa kedana. Yang paling penting untuk ayah adalah perlindungan, makan-minum, pakaian dan ketenangan untuk keluarga tercinta. Tetapi mungkinkah andaian ayah meleset sehingga bonda meninggalkan ayah untuk kembali ke pangkuan keluarga.

Sayang, ayah harap bonda dapat memaafkan ayah kerana kurang memahami tindak tanduk orang Melayu dari Semenanjung Malaysia kerana ayah lebih akrab dengan masyarakat orang di sini di mana semua orang adalah saudara dan rapat tidak mengira bangsa, bahasa atau agama. Setiap orang dilayan sama, baik keluarga ataupun jiran, rakan ataupun taulan. Itulah negeri asal ayah. Kami tidak terpegun makan semeja walaupun bukan sebangsa atau agama.

sumber http://johansutrio.blogspot.com/2009/10/warkah-seorang-ayah-kepada-anaknya.html
Orang banyak mencari cinta, hanya sedikit yang menemukannya, lebih sedikit lagi yang merasakan apa arti cinta itu, akhirnya sangat sedikit orang yang memiliki cinta dan memberikan kepada orang lain apa manfaat dari cinta itu